Basa-basi APA Ba(ha)sa (yang) Basi?





“Orang Indonesia tu ramah, ya?”
Pernah denger kalimat itu?
Kalimat ini sering jadi kalimat yang disampaikan bule ketika ditanya pendapatnya tentang orang Indonesia. Mereka menemukan banyak hal yang tidak ditemukan di negara asalnya.
Senyum, misalnya. Orang Indonesia itu murah senyum. Sampai yang sendirian aja suka senyam-senyum sambil mantengin IG mantan *tsaelah... mantan dibahas 😈

Oke, lanjut!
Jadi gini, orang Indonesia itu kelompok masyarakat timur yang punya budaya basa-basi. Mereka, kita, saya merupakan orang-orang yang dididik untuk jadi orang yang peduli sama keberadaan orang lain. Maksudnya, ketika kita tengah berada dalam suatu situasi tertentu dan kita tau ada orang lain di sana, basa-basi, atau bahkan minimal senyuman tadi, menjadi sinyal bahwa kita menyadari orang lain itu ada di sekitar kita. Dia akan merasa dianggap keberadaannya sama kita. Apalagi kita tau, jadi pihak yang enggak dianggap itu sakit *laaah

Ramah tamah sekelas senyum, orang-orang kita sangat luwes. Senyum itu jadi sapaan paling ringan dengan pahala sebagai balasannya. Ndak dari manusia lho, tapi dari Tuhan. “Senyum adalah ibadah,” gitu katanya.

 Contoh deh, ketika kita lagi berdiri di pinggir jalan nunggu abang Go-Jek jemput, ada mas-mas yang kebetulan sedang nunggu juga di situ, secara otomatis senyuman itu merekah dengan manis. Apalagi kalo mas-masnya gantengnya mirip Gong Yo *yoook, yang suka drakor yang suka drakor πŸ™ˆ

Tentang basa-basi ini, saya nggak kemudian bilang bahwa negara lain ndak ada budaya ini. Orang Amerika pun punya jenis basa-basi yang juga khas. Senyum pun mereka biasa lontarkan ke beberapa orang yang ga sengaja ditemui di suatu tempat, misalnya. Pertanyaan ringan tentang cuaca, pertandingan bola, dan jam biasa banget ditanyain antarmereka.

Lalu bedanya dengan basa-basi di kita apa?
Kalau diperhatikan, basa-basi yang kita punya sebagai orang Indonesia sifatnya lebih personal, lebih berusaha mengakrabkan diri, lebih sering dan berani menanyakan hal-hal yang berkaitan sama kehidupan orang lain. Kenapa begitu? Tujuannya cuma satu: supaya lebih akrab, lebih dekat, lebih mesra *eh 😷

Contoh deh, tentangga lagi jemurin baju pagi-pagi di teras rumahnya, saya lewat sambil nyapa, “Nyuci, Bu?” Dan si ibu mengangguk dengan senyuman sambil balas, “Berangkat pagi, Mbak,” pas liat saya ngeluarin motor dengan pakaian kantoran.
Pernah dapet pertanyaan serupa? Pernah? Pernah? πŸ™‹

Sebentar, jangan jawab dulu, tapi coba diperhatikan dulu?
Ada informasi baru enggak sebenarnya?
Bukankah kami sama-sama tahu bahwa kalau njemurin itu pasti imbas dari nyuci dan kalau keluarin motor pakai baju kantor itu artinya mau berangkat kerja karena memang beliau tau saya udah kerja dan bukan anak SMP?
Itulah basa-basi. 
Gak ada informasi baru karena memang informasi yang ada bisa dibilang sesuai dengan namanya: basi. Kami sudah sama-sama tahu.
Lalu untuk apa bahas sesuatu yang basi? 
Tujuannya tadi lho: supaya akrab, supaya ada perasaan dianggap keberadaannya. Ini semua karena memang basa-basi tidak bersifat informatif, tetapi fungsional. Bahwa yang dilihat adalah "untuk apa?" bukan "menyampaikan informasi apa?"


Naaaah.... sekarang balik lagi ke sifat basa-basi orang Indonesia.
Tadi uda disebutin tuh, sifat basa-basi orang Indonesia itu personal, lebih ke hal-hal kehidupan secara dekat, dan yang pasti basa-basi semacam ini sangat jarang ditemukan dalam basa-basi orang barat.
Orang Amerika akan lebih memilih topik yang umum, di luar kehidupan mitra wicaranya. Mereka sangat menghindari itu.
Adapun orang Indonesia? Justru sangat doyan membahas hal-hal yang personal.
Dengan latar itulah lalu saya pengin bahas bahwa tidak semua hal personal itu pantas di-basabasi-kan. Tidak semua hal dalam kehidupan orang lain penting untuk kita tanyakan.

Nanya tentang jemuran dan usia anak, masih okelah.
Tapi kalau tentang gaji apalagi kapan nikah? Apa esensinya masih basa-basi?
Sekarang gini, kita bedakan dulu antara bas-basi dan mau tahu hidup orang.
Kadang-kadang beberapa dari masyarakat kita sulit untuk membedakan itu. 
"Kapan nikah?" atau "Sudah nikah?"
atau 
"Kapan nih gendong anak?" atau "Eh udah 'isi'?"
*tarik napas*
Percayalah, tidak semua konteks bisa disisipi pertanyaan semacam ini dan tidak semua pihak pantas mengutarakannya.
Teman akrab? Okelah. 
Tapi bahkan saya pun untuk tanya itu ke sahabat saya aja ndak berani.
Kenapa? Balik lagi ke tadi: tidak semua hal personal pantas dan bisa dijadikan bahan basa-basi.

Lalu yang lebih kurang pas lagi adalah ketika muncul satu kata tanya yang menyusul jika pertanyaan basa-basi tadi dijawab dengan "belum" --> "Kenapa?" atau "Kok belum?"
Itu tu seakan-akan kita tahu takdir Tuhan tentang alasan seseorang belum menikah atau pun belum hamil.
Saya bahas ini karena memang sebenarnya berdasar dari pengalaman saya, juga beberapa teman yang mendapatkan pertanyaan yang sama berrrrrulang-ulang.
Mbok ya udah. Tanyakanlah yang lain. Masih banyak kok.
Selagi belum nggandeng atau perut masih rata, asumsikan saja pertanyaan tadi belum terjawab. Bahkan saya pernah tanya teman saya yang dari Tiongkok. Menurutnya, pertanyaan semacam itu benar-benar tidak boleh diutarakan di sana.
Kenapa?
Jelas karena itu hal pribadi. Jelas karena ada ranah pribadi yang boleh dan tidak boleh ditanyakan.

Kalau memang ingin tahu benar, tanyakan dengan baik-baik. Tidak perlu diumbar dengan volume suara yang keras, yang kemudian disusul dengan bully-an dan ejekan.
*nasib pernah di-bully 😭
Lalu, jika jawabannya belum pun, ya sudah, ndak perlu tanya "Kenapa" karena yang mengalaminya pun tidak tahu jawabannya. Atau lebih bagus lagi kalau kemudian memberikan dukungan untuk tetap bahagia, kasih saran yang membangun, atauuuu justru bertanyanya pun bertujuan mau mengutarakan "Eh adik aku juga belum nikah dan jomblo lho, mau dikenalin?" 
Kan lebih indah tuh! 😍😍😍
Kita boleh, bahkan sangaaaat boleh, bahkan wajib ramah. Boleh pilih topik apapun itu.
Tapi, plis, dipilih topiknya. Pas nggak tanya itu? Pas nggak kita tanya ke dia? Pas nggak diksinya? Pas nggak sama budaya orang yang kita basa-basiin *ini bahasa apaan si, ra 😜
Kalau sekiranya ramah tamah yang tadinya bertujuan mengakrabkan tapi justru jadi merenggangkan hubungan sosial, mending jangan deh. Kalau sudah begitu, basa-basi akan tetapi jadi ciri khas keramah tamahan kita, bukan ke-kepo-an yang kemudian mengesalkan pihak yang mendengar.


Oke, gaes.

Segitu dulu, ya πŸ˜‡



Salam

Rara Mualafina


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Ada Sensor?

Di-slow-in ajaaa