Perlukah Ada Sensor?
https://wepreventcrime.wordpress.com/2015/05/01/sensor-menjaga-kualitas-atau-membatasi-ekspresi/
Saya penggemar film.
Banget.
Kalo istilah Sunda yang sering ibu saya pakai --> beki. sebulan ndak nonton tu rasanya ada yang kurang dari hidup ini *minta ditampol sendal
Saya juga sejak kuliah demen unduh serial-serial film. Ini sebelum demam drakor merebak, ya. Supranatural, Heroes, Vampir Diaries, memenuhi harddisc eksternal.
Sampe jebol.
Masa-masa demam k-pop pun saya rasakan dengan lembur BBF, fullhouse, dan masih banyak lagi.
Nah, karena ke-beki-an saya itulah, saya masih sering simak film-film yang ditayangkan melalui stasiun televisi. Kalau saya suka filmnya, meski udah pernah nonton di bioskop atau bahkan berkali kali diputer di tivi, akan tetap saya tonton. Battleship, The Bourne series, Real Steel, Fast Furious yang entah seri ke berapa, dan Eagle Eye, misalnya. *misalnya kok banyak amat
*kretekin jari
Hal menyebalkan yang kemudian umumnya saya rasakan adalah bahwa fim yang ditayangkan ulang di tv tadi banyak yang dipotong.
Gini deh, ada memang beberapa bagian fim yang tidak layak dilihat oleh sembarang usia, adegan kekerasan, berciuman atau bahkan adegan ranjang, misalnya. Dan itu wajar ketika kemudian dialihkan atau bahkan dihapus dari putaran film aslinya. Wajarnya kenapa? Karena film-film tadi kebanyakan ditayangkan pada jam-jamnya anak-anak masih melek manja dan main-main lucu sama ayah ibunya yang mungkin dilakukan di depan tv. Kenapa emang kalau anak-anak belum tidur? Karena anak-anak, sebagai salah satu pihak yang belum layak melihatnya, masih perlu proses untuk bisa memahami adegan-adegan tadi sebagai bangian dari gambaran hidup yang bukan untuk ditiru begitu saja tetapi untuk bisa dipahami pada suatu kondisi tertentu yang mereka bahkan sangat belum pantas melakukan itu.
Lalu, apa yang kemudian jadi bagian menyebalkan tadi?
Ada beberapa scene yang ketika disensor tersebut justru mengurangi esensi filmnya karena bagian tersebut adalah bagian yang penting dalam cerita. Gak cuma sedikit, tapi banyak. Akhirnya penonton tuh cuma dikasih sekelumit doang. Asli, durasi film jadi kayak cuma 'gitu doang'. Gak lengkap. Kenapa sampai sebegitunya? Karena di film tersebut banyak adegan yang memang tidak pantas kalau ditampilkan di tv: kasar, tabu, vulgar.
Hal yang menggelitik bagi saya adalah: kalau banyak yang kurang pantas, mending menayangkan film lain yang risiko 'kurang amannya' lebih minim. Atau kalau memang rawan dilihat 'mata' yang belum cukup umur, penayangannya yang agak malam, jadi relatif aman.
Dan sebenarnya ada semacam ganjalan di hati saya yang udah lama banget saya rasain ketika nonton film yang kategorinya dewasa (17 atau bahkan 18 tahun ke atas) di bioskop, tapi ada salah satu penonton yang bawa anak balita (bukan bayi, ya) ikut nonton. Paling nggak dia sudah tahu dan paham mana laki-laki mana perempuan, kapan dia pakai kata saya mana kata kamu. Agak kurang pas menurut saya. Mungkin iya sih, akhirnya orang tuanya nutupin mata si anak. Lha iya kalo pas timingnya, nah kalo kelepasan lihat?*sedakepin tangan
Hayo, piye?
Hal lain yang kadang-kadang agak menimbulkan tanya adalah bahwa penyensoran itu ndak menyeluruh. Kadang ada dan ketat abis, kadang ndak ada sama sekali. Suka-suka tv-nya sih sebenarnya kok saya yang repot, ya?
Cuma gini, lho. Di satu waktu, rokok, pisau, pistol semuanya diburemin, diblurkan sehingga ndak terlihat. Meskipun kita tahu si itu apaan yang diblurkan. Bahkan sering saya lihat kalau film yang ditayangkan itu film aksi, lalu ada adegan kekerasa, saling pukul atau tembak, misalnya, darahnya pun diblurkan. Atau bahkan gambarkan dibuat hitam putih. Adegan pukul-pukulannya di-cut gitu aja. Jadi, semacam ngedip sekali, adegannya tau-tau udah ganti baju dari warhan merah jadi warna ijo. Kan sebel. Lalu apa kabar adegan kelahi antaranak SMA di tv kita? Bahkan di beberapa adegan sinetron, ada tuh adegan berdarahnya dan normal aja ditampilin merah-merah pink unyu *ini saya sampai searching di youtube buat liat scenenya.
Kalau udah begitu, kan jadi agak rancu, ya, rasanya.
Termasuk ketika malam ini saya nonton film Red 2 di salah satu stasiun televisi dan adegannya berkelahi, pistol, dan pisau tidak disensor, atau bahkan darah berwarna merah yang mengalir layaknya sungai *oke, mulai lebay* itu tidak diblurkan sama sekali.
Jadi, sebenarnya gimana aturannya? Saya juga ndak paham
Sekarang gini deh, kalau menurut saya, kayaknya kita sibuk, ya, sensor-sensor gambar dan scene film luar, ribut ada adegan ini itu. Termasuk film Titanic yang meski berkali ditayangin tapi adegan pelukisan tubuh Rose selalu dihilangkan *ya karena emang itu vulgar banget, rara.
Tapi coba deh kalau diperhatiakn film-film kita, atau sinetronnya aja.
Pernah nggak si kita ngeh dan sekali aja perhatikan esensi sinetron-sinetron yang ada di tv?
Kontennya, maksud saya. Mungkin memang banyak menghindari adegan merokok, pakai pistol, tusuk-tusukan pakai pisau sampai segala darah muncrat di mana-mana kayak di Game of Throne. Tapi, tengoklah inti ceritanya: rebutan pacar, sekolah bajunya dikeluarkan, ke sekolah pakai dandanan layaknya kondangan, geng-gengan motor, berkelahi antargeng, bahkan ngajarin bentak orang tua, hidup mewah.
(Saya nggak bilang semua sinetron Indonesia begitu. Cuma beberapa. Ada tetap sinetron yang mengajarkan akidah, bahkan sosial sesam manusia.)
Lalu, kaitannya dengan bahasa. Ada beberapa film barat yang sejumlah kata yang dianggap kasar kemudian di-mute-kan karena dianggap tidak pantas didenger. Misalnya, damn, bitch, shit yang secara umum kalau ndak ada subtitlenya mungkin orang ndak tau apa arti sesungguhnya. Atau seringkali saya lihat justru di bagian subtitle-nya diganti kata lain yang lebih 'aman' .
Perlakuan yang sama pun ditemukan ketika kata-kata bajingan, bangsat, atau kampret yang notabene bahasa Indonesia diucapkan dan akhirnya juga disembunyikan suaranya.
Nah, sebagaimana yang terjadi tadi, sensor pada bahasa ini tadi tidak rata. Di satu adegan sinetron yang saya lihat juga ada penggunaan kata habisin, Bang! dalam konteks menyemangati seorang teman yang sedang memukuli lawan gengnya. Dan ini dibiarkan. Kasar, ya? Kasar dong apalagi kalau dilihat sinetron ini sebagian besar penikmatnya adalah anak usia sekolah. Usia yang secara keilmuan merupakan usia penyerapan berbagai paparan stimuli dari luar, termasuk berupa penyerapan bahasa.
Dulu, pernah ada teman kos saya yang cerita tentang ponakannya. Kalau ndak salah usia ponakannya waktu itu sekitar 5 tahunlah. Usia TK gitu.
Nah, karena seringnya si ponakan ikutan nonton sinetron sama mamanya, ada satu kalimat yang dia tiru dari sinetron untuk dia ucapkan tiap kali marah sama temannya. Mau tau apa kalimatnya?
"Ku penggal kepalamu!"
Mamaaa
Ngeri kali kalau sudah begini.
Maka sebenarnya, apa yang perlu disensor dari tv kita? Apa yang layak dipertontonkan di dalamnya?
Mungkin ini akan lebih dalam lagi kalau kemudian kita lihat sebagian besar orang menganggap kartun, robot, dan film Superhero itu film anak-anak.
Enggak sama sekali!
Shincan bukan film anak-anak.
Death Note? Bukan juga.
Apalagi Frozen yang adegan kissing-nya jelas ada.
Termasuk Iron Man, Spiderman, Superman, Transformers.
No! Itu bukan film anak-anak.
Kapan-kapan saya bahas deh ini.
Sekarang mari kita tidur. Sudah pukul 23.04
Salam
Rara Mualafina

Nggak konsisten ya, Bu. Saya juga pernah suatu ketika liat naruto the movie yg tayang jam 9 malam, pakaian si sakura diblur abis abisan eh nggak lama setelahnya terus tayang iklan suatu prodak cat yang nggak pantas dan nggak disensor. Kalo ini mah kayak gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di sebrang lautan tampak. ๐
BalasHapushahaha.. iya ya. banyak iklan dengan pakaian minim di tv kita tapi sering ndak kena sensor :p
Hapus