Sekadar Review 'The Commuter'


Saya sebenarnya udah bahas ini di instagram. Baru sekelumit dan masih banyak yang pengin banget saya bahas. 
The Commuter.
Satu judul film yang awalnya cuma saya lihat trailernya dan agak setengah niat nontonnya. Sebabnya cuma satu: saya nunggu film lain *kok berasa jahad 😱
Ada film baru juga sebenarnya, filmnya Chris Hemsworth, judulnya 12 Strongs. Kehidupan tentara-tentara gitulah.
Ternyata film itu belum keluar. Oke fix, gagal nonton.

Lalu, ketika kemudian ditawarin dan diajakin nonton The Commuter ini, saya agak ragu. Pertama, beberapa kali saya kecewa sama film dengan ekspektasi yang tinggi gara-gara tokoh yang main di dalemnya. Nah, The Commuter ini satu film yang tokoh utamanya udah wara-wiri di sejumlah film dan saya tonton. Taken 1 sampai 3, The A-team, Battleship, termasuk The Grey yang saya belum pernah nonton. 
Di semua film itu, karakter Liam Neeson ini hampir sama: jadi tokoh sentral yang serius, yang tegang, dan bahkan sedih. Saya bahkan lihat dia ni ndak pernah bermain di film yang karakternya konyol atau sejenis horor. Maka, kesamaan karakter itu yang buat saya sempet mikir: bakalan bagus nggak, ya?

Lalu, di suatu pagi, komentar yang sama pun ternyata dilontarkan sama seorang penyiar radio. Dia menganggap bahwa memang karakter Om Neeson ini selalu sama. Tentang orang yang didesak dalam suatu misi, nyawa terancam, mengejar waktu, dan keteganggan lainnya.

Nah, ketika kemudian saya nonton, tentunya dengan ekspektasi yang biasa aja, saya nggak kecewa. Saya suka. Memang kalau lihat trailernya, nggak banyak yang ditawarkan di sana karena cuma menggambaran suasana film yang hanya dipusatkan di kereta. Ternyata dalam filmnya banyak hal yang tidak tergambar sebelumnya di trailer

Film ini menceritakan tentang seorang Michael MacCauley dengan seorang istri dan seorang anak laki-laki yang sedang berusaha cari pendaftaran masuk universitas. Mike dan istrinya, Karen, berusaha mencari solusi mengenai biaya karena pendaftaran masuk universitas tidak murah lagi. Di tengah kondisi tersebut, Mike justru harus menghadapi kondisi ketika ia kehilangan pekerjaan dan bertemu dengan seorang perempuan asing bernama Joana di sebuah kereta yang setia hari mengantarnya pulang pergi bekerja. 
Satu misi penting buat dia harus berjuang mempertahankan nyawa: nyawanya, nyawa keluarganya, termasuk nyawa orang-orang yang ada bersamanya di kereta yang ditumpanginya.

Banyak dari adegan di film ini yang membuat saya nutup mata. Bahkan ada scene yang membuat saya jejeritan, tapi ditahan si😜
Kalau yang suka banget film aksi dan penuh adrenalin, film ini cocok banget. Meski begitu, tokoh-tokoh yang membuat tertawa pun ada. Paling tidak di antara kepedihan dan ketegangan itu, tertawa menjadi satu hal obat ringan yang bisa diselipkan *ea 😊

Tentang alur, saya si suka. Ada banyak misteri yang sebenarnya ringan, tapi penonton juga nggak musah menebak. Semacam teka-tekinya Cak Lontonglah: menjebak tapi pas. Ketika nonton nanti, kita akan tahu bahwa hidup itu bukan hanya urusan diri saya, tetapi juga dirimu dan mereka. Di film ni diajari betapa hidup kita sebagai manusia itu benar-benar nggak bisa cuma mikir 'yang penting gue' tai juga 'lo dan dia juga sama pentingnya'

Ada sebenarnya hal yang membuat saya bertanya-tanya di akhir cerita, misalnya tentang siapa sebenarnya Joana? Siapa yang jadi atasan Joana? Konspirasi antarsiapa sebenarnya di balik misi yang diperintahkan ke Mike? dsb. 
Taaapi, semua itu tertutup kok sama kedetailan cerita dan efek filmnya. Nilai dari saya si berani deh kasih 8/10 πŸ’—

Penasaran? Nontonlah. Paling nggak di antara kepedihan tanggal tua, ada satu penghibur mata yang nggak cuma menawarkan 'cerita bagus', tetapi juga 'kegantengan Om om yang lebih mirip eyang kakung' yang hakiki 
 
Selamat nonton πŸ˜‰

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perlukah Ada Sensor?

Di-slow-in ajaaa

Basa-basi APA Ba(ha)sa (yang) Basi?